Budidaya Kubis

By:
Kol, dari kata kool, Belanda atau kubis dari cabbage, Inggris; adalah sayuran yang paling banyak dibudidayakan di dunia. Harga kol juga paling murah kalau dibandingkan sayuran lain seperti caisim, wortel, seledri dan bawang daun. Harga kol kadang-kadang sedemikian murahnya, hingga petani di sentra-sentra sayuran di Sumatera dan Jawa, hanya bisa mencindang kol mereka langsung di ladang sebagai pupuk. Sebab ongkos angkut dari ladang sampai ke pasar justru lebih tinggi dibanding harga kol itu sendiri. Rendahnya harga kol ini selalu disebabkan oleh adanya over produksi. Satu pasar yang daya serapnya hanya 2 ton per hari dengan harga normal Rp 2.000,- per kg, kalau disuplai sampai dengan 4 ton per hari, harganya akan jatuh di bawah Rp 1.000,- per kg.

Yang dimaksud sebagai kol atau kubis, adalah kubis kepala. Kubis yang daun mudanya memadat dan membentuk bulatan. Baik bulatan penuh yang disebut sebagai kol bulat, bulatan pipih sebagai kol gepeng atau bulatan yang meruncing bagian ujungnya. Kubis kepala sendiri terbagi menjadi dua warna. Kol putih (Brassica olevacea var. capitata L. f. alba DC) yang kepalanya berwarna putih dan kol merah (Brassica olevacea var. capitata L. f. rubra (L.) Thell) yang kepalanya berwarna merah keunguan. Ada lagi kubis kepala yang daunnya mengeriting yakni kubis savoi

(Brassica olevacea var. sabauda L.). Di Indonesia, yang paling banyak dibudidayakan adalah kubis kepala jenis gepeng dan bulat warna putih. Kubis bulat merah, hanya dibudidayakan secara terbatas untuk memasok pasar swalayan.

Ada pula jenis kubis yang tidak bisa membentuk kepala dan disebut sebagai kale (Brassica olevacea var. acephala DC.). Daun kale masih berbentuk normal. Kalau daunnya mengeriting namanya kale keriting (Brassica olevacea var. acephala DC. sub Var. laciniata L.). Selain dipanen berupa kepala kol maupun kale, kubis (Brassica olevacea) juga bisa dipanen bunganya. Ada dua macam kubis bunga yakni kubis bunga putih atau kembang kol (Brassica olevacea var. botrytis L. sub var. cauliflora) dan kubis bunga hijau atau brokoli, sprouting broccoli (Brassica oleracea var. botrytis L. subvar. cymosa Lam). Ada pula jenis kubis yang hanya diambil tunasnya. Kol ini disebut kubis tunas atau kol brusel, brusels sprouts (Brassica olevacea var. gemmifera DC.). Bahkan ada kol yang dipanen umbi batangnya (batangnya menggembung), yakni kol rabi, kohlrabi (Brassica oleracea var. gonggylodes L.).

Di Indonesia, sebagai pengganti kol brusel, digunakan tunas kol biasa yang disebut sebagai keciwis. Caranya, kol biasa yang sudah dipanen kepalanya, dipupuk dan dibiarkan tumbuh tunasnya. Tunas inilah yang kemudian dipanen. selain dipasarkan di pasar tradisional/swalayan, keciwis juga banyak diekspor. Kol bunga dan brokoli juga sudah banyak dibudidayakan masyarakat. Kol bunga karena harganya relatif murah, bisa masuk pasar tradisional bahkan warung-warung sayuran di kampung. Sementara brokoli masih dibudidayakan secara terbatas hingga hanya masuk pasar swalayan. Kale, baik biasa maupun keriting belum terlalu banyak dibudidayakan. Demikian pula halnya dengan kol rabi yang pembudidayaannya masih sangat terbatas.

Kol merupakan tanaman pendatang. Sejak tahun 2.500 SM, kubis liar yang banyak tumbuh di sekitar Laut Tengah itu mulai dibudidayakan oleh masyarakat Mesir, Yunani dan Romawi. Abad IX, sayuran ini mulai dikembangkan di daratan Eropa. Ketika bangsa Eropa memburu rempah-rempah ke kepulauan Nusantara, mereka “menemukan” benua Amerika. Kubis pun dibawa berlayar sebagai bekal sayuran. Karena ketika itu belum ada kulkas, maka sayuran ini cepat sekali membusuk. Bangsa Eropa pun mulai membudidayakan sayuran ini di benua Amerika, Afrika dan di kepulauan Nusantara. Diperkirakan sayuran ini mulai dikembangan di sini sekitar abad XVI dan XVII. Karena berasal dari kawasan sub tropis, maka kawasan pengembangan kubis di Jawa dan Sumatera hanya sebatas di pegunungan dengan ketinggian di atas 700 m. dpl.

Benih kubis berupa biji. Ukuran biji sangat kecil, berbentuk bulat dengan diameter 0,25 mm. Benih kubis sampai sekarang masih diimpor dari Taiwan, Jepang, Eropa dan AS. Namun benih yang paling banyak dibudidayakan petani yang berasal dari Taiwan. Benih ini dikemas dalam wadah sase atau kaleng kecil. Sebenarnya, kubis yang dibudidayakan di sini juga mampu menghasilkan bunga dan biji. Tahun 1950an, ketika suplai benih dari Belanda terhenti, para petani biasa memangkas kepala kubis hingga terbuka bagian atas cropnya. Tidak lama kemudian, tranaman itu akan mengeluarkan bunga dan buah. Biji kubis inilah yang kemudian dibudidayakan. Hasilnya tentu tidak sebaik kubis yang dibudidayakan dengan menggunakan benih impor.

Budidaya kubis dimulai dengan menyemai benih di para-para yang diberi atap miring menghadap ka arah timur. Bisanya para-para tempat penyemaian ini berukuran 1 X 3 m. dengan ketinggian 2 m. yang dibagi menjadi tiga lapis rak semai. Bagian paling atas berupa atap yang miring menghadap ke timur untuk melindungi semai dari guyuran hujan. Di atas rak semai inilah dihamparkan tanah yang sudah dicampur pupuk kandang. Setelah media siap, benih ditaburkan di atasnya. Banyak pula petani yang menggunakan wadah takir. Takir terbuat dari daun pisang yang dibuat mangkok segi empat dengan ukuran 4 X 4 X 3 cm. Untuk mentautkan daun pisang, digunakan “biting” yakni lidi yang ditusukkan. Namun sekarang para petani sudah menggunakan stapler untuk membuat takir dari daun pisang.

Ke dalam takir ini diisikan media tanam, kemudian ditata di atas rak. Tiap takir diisi satu benih. Umur dua sd. tiga minggu, benih takiran ini bisa ditanam di lahan yang telah disiapkan. Cara penanamannya langsung berikut wadahnya yang sebentar kemudian akan hancur. Lahan yang paling cocok untuk kubis adalah tanah vulkanis. Itulah sebabnya areal pertanaman kubis selalu terdapat di lereng gunung api. Mulai dari gunung Sibayak di Brastagi, Singgalang dan Merapi di Bukittinggi, Gede/Pangrango di Cipanas, Tangkuban Perahu di Lembang dll. Lahan ini harus disiapkan dengan pencangkulan bersih (gulma diambil dan dibuang atau dibenamkan). Kemudioan dibuat lubang tanam dengan jarak 40 X 80 cm. atau 50 X 100 cm, tergantung jenis kolnya.

Ke dalam lubang tanam tersebut, dimasukkan pupuk kandang satu genggam dan NPK satu sendok teh. Setelah itu takir berikut benih dimasukkan dan ditimbun. Pada umur dua minggu sejak tanam, di sekeliling pokok tanaman ditaburkan urea sebanyak 0,5 sendok makan per tanaman. Penaburan urea ini tidak boleh terlalu dekat dengan pangkal batang, sebab dikhawatirkan akan membuat tanaman menjadi layu. Ketika gulma sudah cukup subur di sekeliling tanam, dilakukan penyiangan sekaligus membumbunan. Pada umur sekitar 1,5 sd. 2 bulan dilakukan pemupukan urea untuk keduakalinya. Dosisnya satu sendok makan. Selanjutnya tinggal melakukan penjagaan agar hama trips tidak menyerang.

Penanggulangan hama dilakukan dengan penyemprotan insektisida kontak. Insentisida sistemik tidak boleh digunakan untuk sayuran. Bahkan di Malaysia, Thailand dan Taiwan, budidaya semua jenis sayuran termasuk kol dilakukan dalam scren house. Hingga tanaman tidak perlu disemprot pestisida karena hama tidak mungkin masuk ke lahan pertanian. Pola budidaya demikian dilakukan karena di negara-negara tersebut sudah ada persyaratan bahwa sayuran yang boleh dipasarkan hanyalah yang kandungan residu pestisidanya nol. Kadang-kadang petani kita juga melakukan penanggulangan hama ini dengan cara manual, yakni memungut ulat kol ini satu persatu. Selain itu, petani juga selalu menanam bawang daun, kemangi dan seledri di antara kol, agar hama trips yang tidak menyukai aroma tanaman tersebut tidak mau datang.

Selain untuk penanggulangan hama, penanaman daun bawang dll. bersamaan dengan kol juga dimaksudkan untuk penghematan waktu. Para petani di Garut, malahan menanam kol bersamaan dengan akar wangi. Setelah kolnya dipanen, akar wanginya tetap dipelihara sampai memenuhi syarat umur panen untuk disuling. Petani di Cipanas, Bandungan, Kopeng dll. umumnya menanam kol secara tumpangsari dengan daun bawang. Sebab jenis sayuran ini paling cocok ditanam soliter, berdampingan dengan kol. Sementara seledri dan wortel biasanya ditanam secara monokultur dengan cara ditebar langsung di petak penanaman. Bukan dengan disemai terlebih dahulu seperti kol. Benih seledri dan wortel pun selama ini sudah bisa diproduksi sendiri oleh para petani. Hingga mereka tidak tergantung ke benih impor.

Pada umur di bawah 2 bulan, ketika kubis belum membentuk kepala atau bunga, kita tidak tahu apakah yang dibudidayakan petani itu kubis kepala, bunga atau tunas. Baru setelah membentuk kepala atau bunga, maka kita tahu jenis kubis apa yang dibudidayakan tersebut. Secara otomatis kubis kepala akan membentuk crop di bagian pucuknya. Panen kepala dilakukan pada umur sekitar 3 bulan. Tanda kepala yang siap panen adalah telah padat dan mengeras. Dengan cara diketuk-ketuk, petani tahu apakah kepala itu sudah siap panen atau belum. Brokoli juga dibiarkan tumbuh seperti biasa sebelum dipanen bunganya. Namun kol bunga hanya bisa berwarna putih dan bukan kuning, kalau daun-daun bagian atas ditutupkan saling tumpang tindih dengan ditusuk lidi. Dengan terlindung dari sinar matahari, kembang kol yang dihasilkan akan berwarna putih bersih.
sumber: petanikol.files.wordpress.com

[edit]

Pasang INTERNET FASNET PLUS TV KABEL FIRSTMEDIA
Pasang FIRSTMEDIA internet speed hingga 100mbps + CHannel TV HD hingga 50HD hub 087777313417 only SMS