Adab berziarah dan berdo’a di depan (makam) Rasulallah saw.

By:
Sebagaimana yang telah kami kemukakan tadi, bahwa adab berziarah ke kuburan orang muslimin yang diajarkan oleh Rasulallah saw. yaitu menghadapkan wajah kita kekuburan itu kemudian memberi salam dan berdo’a. Tetapi golongan Wahabi/Salafi yang menjaga disekitar makam Rasulallah saw. sering membentak orang-orang yang sedang berziarah agar waktu berdo’a harus menghadap ke kiblat.


Padahal banyak fatwa ulama yang mengatakan, bahwa diperbolehkan bagi orang yang berziarah kemakam Rasulallah saw., berdiri mengucapkan do’a mohon kepada Allah swt. agar dikarunia kebajikan dan kebaikan apa saja yang di-inginkan, dan tidak harus menghadap kearah kiblat (Ka’bah). Berdiri seperti ini bukan bid’ah, bukan perbuatan sesat dan bukan pula perbuatan syirik. Para ulama telah menfatwakan masalah itu bahkan ada diantara mereka yang memandangnya mustahab/baik.

Masalah tersebut pada mulanya berasal dari peristiwa yang dialami oleh Imam Malik bin Anas ra., yaitu ketika beliau mendapat tegoran dari Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur di dalam masjid Nabawi di Madinah. Ketika itu Imam Malik menjawab: “Ya Amirul-Mu’minin, janganlah anda bersuara keras di dalam masjid ini, karena Allah swt. telah mengajarkan tatakrama kepada ummat ini dengan firman-Nya: ‘Janganlah kalian memperkeras suara kalian (dalam berbicara) melebihi suara Nabi….dan seterusnya’ (QS.Al-Hujurat:2). Allah swt juga memuji sejumlah orang dengan firman-Nya: ‘Sesungguhnya mereka yang melirihkan suaranya dihadapan Rasulallah…dan seterusnya’ (QS.Al-Hujurat:3). Begitu juga Allah swt. mencela sejumlah orang dengan firman-Nya: ‘Sesungguhnya orang-orang yang memanggil-manggilmu dari luar kamar…dan seterusnya’. (QS.Al-Hujurat :4).

Rasulallah saw adalah tetap mulia, baik selagi beliau masih hidup maupun setelah wafat. Mendengar jawaban itu Abu Ja’far terdiam, tetapi kemudian bertanya: ‘Hai Abu ‘Abdullah (nama panggilan Imam Malik), apakah aku harus berdo’a sambil menghadap Kiblat, atau menghadap (pusara) Rasulallah saw.?’. Imam Malik menjawab: ‘ Mengapa anda memalingkan muka dari beliau saw, padahal beliau saw adalah wasilah anda dan wasilah Bapak anda, Adam as, kepada Allah swt pada hari kiamat kelak? Hadapkanlah wajah anda kepada beliau saw dan mohonlah syafa’at beliau, beliau pasti akan memberi syafa’at kepada anda di sisi Allah swt. Allah swt telah berfirman: ‘Sesungguhnya jikalau mereka ketika berbuat dhalim terhadap dirinya sendiri (lalu segera) datang menghadapmu (Muhammad saw.)…dan seterusnya’ ". (QS. An-Nisa:64) . (Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Qadhi ‘Iyadh dengan isnadnya yang terdapat didalam kitabnya Al-Ma’ruf Bisy-Syifa Fit-Ta’rif pada bab Ziarah.) Banyak ulama yang menyebut peristiwa/riwayat diatas ini.

Ibnu Taimiyyah sendiri dalam Iqtidha-us Shiratul-Mustaqim halaman 397, menuturkan apa yang pernah diriwayatkan oleh Ibnu Wahb mengenai Imam Malik bin Anas. “Tiap saat ia (Imam Malik) mengucapkan salam kepada Nabi saw., ia berdiri dan menghadapkan wajahnya ke arah pusara Nabi saw., tidak kearah kiblat. Ia mendekat, mengucap kan salam dan berdo’a, tetapi tidak menyentuh pusara dengan tangannya” (Mengenai riwayat menyentuh pusara silahkan baca bab Tawassul/Tabarruk di website ini—pen).

Imam Nawawi didalam kitabnya yang berjudul Al-Idhah Fi Babiz-Ziyarah mengetengahkan juga kisah itu. Demikian juga didalam Al-Majmu jilid VIII halalam 272.

Al-Khufajiy didalam Syarhusy-Syifa menyebut, bahwa As-Sabki mengatakan sebagai berikut: “ Sahabat-sahabat kami menyatakan, adalah mustahab jika orang pada saat datang berziarah ke pusara Rasulallah saw. menghadapkan wajah kepadanya (Rasulallah saw) dan membelakangi Kiblat, kemudian mengucapkan salam kepada beliau saw., beserta keluarganya (ahlu-bait beliau saw.) dan para sahabatnya, lalu mendatangi pusara dua orang sahabat beliau saw. (Khalifah Abubakar dan Umar –radhiyallhu ‘anhuma). Setelah itu lalu kembali ketempat semula dan berdiri sambil berdo’a “. (Syarhusy-Syifa jilid III halaman 398). Lihat pula Mafahim Yajibu An Tushahhah, oleh As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani, seorang ulama di Tanah Suci, Makkah.

Dengan demikian tidak ada ulama yang mengatakan cara berziarah sambil berdoa menghadap makam Rasulalallah saw, adalah haram, bid’ah sesat dan lain sebagainya, kecuali golongan Wahabi/Salafi dan pengikutnya. Lebih heran lagi muthowwik wahabi sekitar makam Rasulallah saw tsb. tidak berani melarang famili Raja Saud atau pejabat tinggi Saudi yang ziarah disana dan berdoa menghadap kemakam beliau saw. dan tidak menghadap kekiblat (untuk bukti klik situs www.abusalafy.com. fotonya raja Abdullah ketika ziarah kemakam Rasulallah saw). Mereka hanya berani melarang kepada para pendatang dari jamaah haji. Untuk melakukan amal ma'ruf dan nahi mungkar, maka seharusnya mereka melarang setiap orang –baik itu Raja, President maupun rakyat biasa– untuk tidak melaksanakan perbuatan yang mereka anggap wajib tersebut, jadi tidak membeda-bedakannya.

Dalil-dalil yang melarang ziarah kubur dan jawabannya.
Golongan yang melarang ziarah kubur menukil dalil-dalil sebagai berikut:

1. Fatwa Ibnu Taimiyah dalam kitab Minhaj as-Sunah jilid 2 halaman 441 menyatakan: “Semua hadits-hadits Nabi yang berkaitan dengan menziarahi kuburnya merupakan hadits yang lemah (Dzaif), bahkan dibuat-buat (Ja’li) ”.

Dan dalam kitab yang berjudul at-Tawassul wal Wasilah halaman 156 kembali Ibnu Taimiyah mengatakan: “Semua hadits yang berkaitan dengan ziarah kubur Nabi adalah hadits lemah, bahkan hadits bohong”. Ungkapan Ibnu Taimiyah ini di-ikuti secara fanatik oleh semua ulama Wahabi, termasuk Abdul Aziz bin Baz dalam kitab kumpulan fatwanya yang berjudul Majmuatul Fatawa bin Baz jilid: 2 halaman 754, dan banyak lagi ulama Wahabi lainnya.

2. Disamping dalil diatas, mereka juga berdalil dengan ayat al-Qur’an yang sama sekali tidak bisa diterapkan kepada kaum muslimin, yakni firman Allah swt. dalam surat at-Taubah:84: “Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo’akan) dikuburnya”.

Kaum pengikut Wahabi menganggap bahwa ayat itu membuktikan akan pelarangan ziarah kubur secara mutlak. Padahal, mayoritas ulama Ahlusunah yang menafsirkan ayat tadi dengan tegas menyatakan bahwa ayat itu berkaitan dengan kuburan kaum munafik, bukan kaum muslim, apalagi kaum mukmin. Jadi ayat tersebut tidak berlaku jika penghuni kubur itu adalah seorang muslim dan mukmin sejati, apalagi jika penghuni kubur tadi tergolong kekasih (Wali) Allah swt..

Al-Baidhawi dalam kitab Anwarut Tanzil jilid 1 hal.416 dan al-Alusi dalam kitab Ruhul Ma’ani jilid 10 hal.155 dalam menafsirkan ayat at Taubah:84 menyatakan bahwa ayat itu diturunkan untuk penghuni kubur yang tergolong kaum munafik dan kafir.

Bagaimana mungkin kelompok Wahabi memutlakkannya, yang berarti mencakup segenap kaum muslimin secara keseluruhan, termasuk mencakup kuburan wali Allah? Apakah kaum Wahabi telah menganggap bahwa segenap kaum muslimin dihukumi sama dengan kaum kafir dan munafik? Apakah hanya yang meyakini akidah Wahabi yang dianggap muslim dan monoteis (Muwahhid) sejati? Pikiran semacam itu adalah pikiran yang dangkal sekali.

Kita ingin bertanya lagi pada golongan pengingkar itu; “Bagaimana dengan argumentasi hadits-hadits diatas dan hadits-hadits lainnya yang tercantum dalam kitab-kitab standart dan karya para ulama terkemuka Ahlusunah wal Jama’ah? Dalam kitab-kitab hadits disebutkan bahwa Nabi saw. bukan hanya tidak melarang umatnya untuk menziarahi kubur, bahkan beliau menganjurkan hal tersebut, guna mengingat kematian dan akherat. Hal itu dikarenakan dengan ziarah kubur manusia akan mengingat akhirat. Dan dengan itu akan meniscayakan manusia yang beriman akan semakin ingat dengan Tuhannya. Malah beliau saw. mengajarkan kepada kita bagaimana adab atau cara berziarah. Begitu juga beberapa fatwa para Imam madzhab fikih Ahlusunah wal Jama’ah yang membuktikan bahwa ziarah kubur disunnahkan.

Apakah Ibnu Taimiyyah dan golongan Wahabi serta pengikutnya akan meragukan keshahihan Shahih Muslim dan para perawi lainnya yang tersebut diatas, sehingga mereka mengatakan bahwa legalitas hadits ziarah kubur merupakan kebohongan? Jika menziarahi kuburan muslim biasa saja diperbolehkan secara syariat, lantas apa alasan mereka mengatakan bahwa menziarahi kubur manusia agung seperti Muhammad Rasulullah saw. yang merupakan kekasih sejati Allah pun adalah kebohongan?

Mengapa golongan pengingkar itu tidak menvonis Umar bin Khatab ra. yang shalat dan menangis didepan kuburan orang tua itu sebagai seorang penyembah kuburan atau amalan seorang musyrik? Mengapa mereka tidak mengatakan bahwa ummul mukminin Aisyah ra. dan Umar bin Khattab ra. telah melakukan hal yang tanpa dalil (bid’ah)? Mungkinkah khalifah kedua dan ummul mukiminin Aisyah melakukan syirik, perbuatan yang paling dibenci oleh Allah? Bukankah mereka berdua adalah tokoh dari Salaf Sholeh yang konon ajarannya akan di hidupkan kembali oleh pengikut Wahabi, lantas mengapa mereka ini berfatwa tidak sesuai dengan ajaran mereka berdua, dan tidak sesuai dengan ajaran Rasulallah saw.?

Jika benar bahwa kelompok Wahabi memiliki misi untuk menghidupkan kembali ajaran Salaf Sholeh maka hendaknya mereka membolehkan berziarah kubur, melaksana kan shalat di sisi kuburan atau menangis disamping kubur sebagaimana yang dilakukan Umar bin Khattab (khalifah kedua)!

3. Ada lagi dari golongan pengingkar yang melarang ziarah kemakam Nabi saw. dengan alasan hadits berikut ini: “Jangan susah-payah bepergian jauh kecuali ke tiga buah masjid; Al-Masjidul-Haram, masjidku ini (di Madinah) dan Al-Masjidul-Aqsha (di Palestina)”.

Sebenarnya hadits diatas ini berkaitan dengan masalah sembahyang, jadi bukan masalah ziarah kubur. Yang dimaksud hadits tersebut ialah ‘jangan bersusah-payah bepergian jauh hanya karena ingin bersembahyang di masjid lain, kecuali tiga masjid yang disebutkan dalam hadits itu’. Karena sembahyang disemua masjid itu sama pahalanya kecuali tiga masjid tersebut.

Makna ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal yaitu Rasulallah saw. pernah bersabda: “Orang tidak perlu bepergian jauh dengan niat mendatangi masjid karena ingin menunaikan sholat didalamnya, kecuali Al-Masjidul-Haram (di Makkah), Al-Masjidul-Aqsha (di Palestina) dan masjidku (di Madinah)” Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits ini terkenal luas (masyhur) dan baik.

Hadits yang semakna diatas tapi sedikit perbedaan kalimatnya yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra. dan dipandang sebagai hadits baik dan masyhur oleh Imam Al-Hafidz Al-Haitsami yaitu: “Orang tidak perlu berniat hendak bepergian jauh mendatangi sebuah masjid karena ingin menunaikan sholat didalamnya kecuali Al-Masjidul-Haram, Al-Masjidul-Aqsha (di Palestina) dan masjidku ini (di Madinah)”. (Majma’uz-Zawa’id jilid 4/3). Dan beredar banyak hadits yang semakna tapi berbeda versinya.

Dengan demikian hadits-hadits diatas ini semuanya berkaitan dengan sholat bukan sebagai larangan untuk berziarah kubur kepada Rasulallah saw. dan kaum muslimin lainnya!

4. Ada lagi pikiran yang aneh dari golongan pengingkar, yang mengatakan bahwa ziarah kubur dilarang pada masa awal perkembangan Islam karena masalah ini memang akan bisa menjatuhkan orang dalam bahaya kesyirikan dan kondisi keimanan seseorang. Jadi sebagai tindakan hati-hati sangatlah wajar jika kita kaum muslimin untuk tidak melakukan ziarah kubur. Lebih lanjut kata mereka: Sering terjadi kekeliruan waktu Ziarah Kubur misalnya:

-Mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk berziarah (bulan Sya’ban, idul Fithri dll)

-Menaburkan bunga-bunga dan meletakkan pelepah pepohonan di atas pusara kubur. Adapun apa yang dilakukan Nabi saw. ketika meletakkan pelepah kurma di atas kubur adalah kekhususan untuk beliau dan berkaitan dengan perkara ghaib, karena Allah memperlihatkan kepada beliau keadaan penghuni kubur yang sedang disiksa.

-Sujud, membungkuk ke arah kuburan kemudian mencium dan mengusapnya

-Berdo’a kepada penghuni kubur. Begitu juga sering orang mempunyai persangkaan bahwa berdo’a di kubur itu lebih terkabulkan, sehingga memilih tempat tersebut

-Memakai sandal ketika memasuki pekuburan

-Duduk, sholat di atas kubur. Shalat diatas kuburan ini tidak diperbolehkan kecuali shalat jenazah dan Nabi saw. bersabda (Janganlah kalian sholat di atas kubur)

Jawabannya:

Pemikiran-pemikiran seperti diatas dari golongan pengingkar sebagai alasan untuk mengharamkan atau melarang ziarah kubur adalah tidak berdasarkan dalil dari Sunnah Rasulallah saw., tidak lain berdasarkan pikiran, logika dan angan-angan mereka sendiri. Begitu juga bila pemikiran diatas dijadikan alasan untuk melarang ziarah kubur maka hal itu akan berbenturan dengan hadits-hadits shohih Rasulallah saw yang membolehkan dan menganjurkan ziarah kubur, memberi salam dan berdo’a untuk dimuka makam ahli kubur, dan lain sebagainya (baca keterangan diatas dan uraian selanjutnya dibab ini atau bab tawassul/tabarruk di website ini).

Hadits Nabi saw yang menyebutkan ‘Dahulu saya melarang ziarah kubur, namun kini berziarahlah….’. jelas sekali bagi orang yang mau berpikir hukum yang lama yaitu ‘larangan ziarah kubur’ akan terhapus/mansukh dengan hukum yang baru yaitu ‘diperbolehkannya’ ziarah tersebut. Begitu juga adanya dalil-dalil shohih mengenai ziarah kubur yang telah kami kemukakan. Mengapa golongan pengingkar ini selalu takut-takut sendiri orang jatuh kedalam kesyirikan bila berziarah kekuburan? Sedangkan manusia yang paling taqwa dan mulia disisi Allah swt Muhammad Rasulallah saw telah menganjurkannya!!

Apakah beliau saw. akan menganjurkan sesuatu amalan yang mengakibatkan kesyirikan atau kemungkaran? Apakah para sahabat Nabi saw. yang mulia dan tokoh dari para Salaf Sholeh serta para pakar islam baik pada zaman Rasulallah saw., sahabat, tabi'in maupun pada zaman berikutnya yang berziarah kemakam Rasulallah saw, kemakam para sholihin serta bertawassul dan bertabarruk (baca bab tawassul/tabarruk dibuku ini) kepada mereka tidak mengerti hukum syari’at Islam?, dan hanya ulama dari pengikut madzhab Wahabi/Salafi saja yang memahaminya? Kami kira para pembaca yang budiman bisa menjawabnya dengan mudah sekali.

 Waktu-waktu tertentu untuk berziarah:

Rasulallah saw tidak pernah mewajibkan maupun mengharamkan waktu-waktu tertentu untuk berziarah kubur, orang boleh berziarah pada waktu apapun baik itu malam, pagi, siang hari atau pada bulan Sya’ban, Idul Fihtri dan lain sebagainya. Mengapa justru golongan pengingkar ini yang melarangnya? Dalam syariat Islam telah diriwayat kan, adanya bulan dan hari yang mulia umpama, bulan-bulan Hurum/suci (Muharam, Dzul-Kiddah, Dzul-Hijjah, Rajab) begitu juga bulan Sya’ban, Ramadhan, hari raya idul fithri, hari Kamis, Jum’at dan lain sebagainya (mengenai hal ini silahkan baca pada bab amalan-amalan nishfu Sya’ban, disitus ini). Pada bulan dan hari tersebut, Allah swt lebih meluaskan Rahmat dan Ampunan-Nya kepada makhluk yang berdoa, beramal sholeh dan lain sebagainya, melebihi dari hari-hari atau bulan-bulan biasa. Dalam waktu-waktu yang mulia itu, kaum muslimin sempatkan pula untuk berziarah kekuburan kerabatnya atau para sholihin. Jadi tidak ada diantara para penziarah yang berfirasat atau mensyariatkan, hanya (khusus) pada bulan atau hari tertentu tersebut mereka berziarah kekuburan. Ini tidak lain hanya pikiran, karangan dan dongengan golongan pengingkar sendiri! Apakah mereka ini tahu hukumnya dalam Islam, orang yang melarang sesuatu amalan yang halal dan menghalalkan suatu amalan yang haram? Kalau sudah mengetahui hukumnya, mengapa masih sering berani menghukumi setiap amalan yang tidak sepaham dengannya, sebagai amalan munkar, haram, syirik dan lain sebagainya? Ingat firman Allah swt dalam surat An-Nahl:116; " Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘Ini halal dan ini haram’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah…".

Golongan pengingkar ini sering mengharamkan, memunkarkan, mensesatkan suatu amalan yang tidak sepaham dengan mereka dengan alasan bahwa Nabi saw atau para sahabat tidak pernah melakukan mengapa kita melakukan hal itu. Kaedah seperti inilah yang sering digembar-gemborkan oleh mereka. Padahal Allah swt, berfirman dalam surat Al-Hasyr :7 :
وَمَا اَتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا
Artinya: Apa saja yang didatangkan oleh Rasul kepadamu, maka ambillah dia dan apa saja yang kamu dilarang daripadanya, maka berhentilah (mengerjakannya). (QS. Al-Hasyr :7). Dalam ayat ini jelas bahwa perintah untuk tidak mengerjakan sesuatu itu adalah apabila telah tegas dan jelas larangannya dari Rasulallah saw. !

Dalam ayat diatas ini tidak dikatakan :
وَماَلَمْ يَفْعَلْهُ فَانْتَهُوْا
Artinya: ‘Dan apa saja yang tidak pernah dikerjakannya (oleh Rasulallah), maka berhentilah (mengerjakannya)’.

Juga dalam hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh imam Bukhori:
اِذَا أمَرْتُكُمْ بِأمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَااسْتَطَعْتُمْ وَاِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْئٍ فَاجْتَنِبُوْهُ
Artinya: ‘Jika aku menyuruhmu melakukan sesuatu, maka lakukanlah semampumu dan jika aku melarangmu melakukan sesuatu, maka jauhilah dia' !

Dalam hadits ini Rasulallah saw. tidak mengatakan:

وَاِذَا لَمْ أفْعَلْ شَيْئًا فَاجْتَنِبُوْهُ
Artinya: ‘Dan apabila sesuatu itu tidak pernah aku kerjakan, maka jauhilah dia'!

Begitu juga syari’at Islam telah menyatakan adanya kehidupan ruh-ruh orang mukmin, yang telah wafat dialam barzakh bisa mengerjakan sholat, bisa menghadiri tempat kuburnya, terbang kemana-mana menurut kehendaknya, berdoa kepada Allah swt untuk para kerabatnya yang masih hidup, mendengar omongan orang yang hidup dan lain sebagainya (baca keterangan selanjutnya dan pada bab tawassul/tabarruk dibuku ini). Dengan adanya hadits-hadits tadi, disamping para penziarah berdoa kepada Allah swt untuk ahli kubur –bukan berdoa kepada ahli kubur tetapi untuk ahli kubur– juga bertawassul, bertabarruk dengan penghuni kubur, agar penghuni kubur itu ikut berdoa kepada Allah swt untuk penziarah itu.

Menaburkan bunga, menanam pelepah pohon:

Dengan adanya hadits-hadits tentang kehidupan ruh-ruh itu itu, para penziarah ada yang menaburkan bunga diatas kuburan, tidak lain hanya sebagai penghormatan atau kecintaan kepada ahli kubur itu, sebagaimana orang yang masih hidup yang sering antara satu dan lain memberi bunga untuk penghormatan. Itu semua tidak ada salahnya, selama penghormatan kepada manusia –baik yang hidup maupun yang telah mati– tidak dibarengi dengan keyakinan, bahwa obyek yang dihormati itu memiliki sifat ketuhanan. Begitu juga menaruh atau menanam pelepah diatas kuburan, juga tidak ada salahnya. Nabi saw sendiri telah mencontohkannya didalam haditsnya, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan lain-lain dari Ibnu Abbas ra. Dalam hadits itu Nabi saw minta pelepah pucuk kurma, lalu dibelahnya satu ditanamkannya kepada satu kubur dan satu lagi pada kubur yang lain, dengan berdoa semoga mereka berdua diberi keringanan (dari siksa kubur) selama pelepah ini belum kering.

Dengan adanya hadits itu, umat beliau saw juga mencontoh perbuatan beliau saw yaitu, menanamkan pelepah pohonan diatas kubur sambil berdoa kepada ahli kubur. Dalam hadits itu Nabi saw tidak melarang atau menyuruh umatnya untuk berbuat seperti beliau saw, begitu juga beliau saw tidak mengatakan perbuatan itu hanya khusus untuk beliau saw! Ada lagi orang mengatakan, yah, itu Nabi yang mengerjakannya tetapi kita tidak boleh menirunya. Omongan seperti ini adalah karangan mereka! Beliau saw adalah sebagai contoh dari umatnya, bila hal tersebut dilarang untuk umatnya, maka sudah pasti beliau saw memberitahukan bahwa perbuatan tersebut khusus untuk beliau. Dengan demikian, penanaman pelepah tersebut mungkin ada hikmahnya, Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui. Kalau tidak demikian halnya, mengapa beliau tidak cukup mendoakan ahli kubur itu saja, tanpa harus meletakkan daun pelepah? Malah ada hadits shohih, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori bahwa Buraidah Aslami berpesan agar pada kuburnya ditanamkan dua pucuk kurma. Nah, apa salahnya kalau orang meniru perbuatan Rasulallah saw tersebut? Pertanyaan lagi terhadap golongan pengingkar, mengapa mereka melarang perbuatan itu, sedangkan Nabi saw tidak melarang perbuatannya tersebut bila ditiru oleh umatnya? Apakah Buraidah Aslami waktu berwasiat itu, tidak mengerti hukum syariat Islam?

Berdiri secara khidmat, atau berbuat tawadhu’ (rendah diri) dan sopan dihadapan kuburan,

Ini tidak ada salahnya, selama perbuatan itu sebagai ta’dhim/ penghormatan saja terhadap ahli kubur dan bukan sebagai ibadah. Begitu juga mencium atau mengusap-usap kuburan, tidak ada salahnya selama niatnya sebagai tabarruk/pengambilan barokah (baca bab Tabarruk/Tawassul). Apakah golongan pengingkar ini masih ingat ayat al-qur’an yang menyebutkan, tentang sujudnya para malaikat kepada Adam as dan sujudnya saudara-saudara Yusuf as kepada Nabi Yusuf? Semua ahli tafsir mengatakan, bahwa sujud di ayat itu sebagai sujud penghormatan, bukan sebagai ibadah kepada obyek yang dihormati. Kalau sujud disitu tidak dicela oleh Allah swt, karena tidak lain hanya merupakan penghormatan, mengapa golongan pengingkar berani mengharamkan sampai berani mensyirikkan orang yang berdiri khidmat sebagai peng- hormatan dihadapan kuburan Rasulallah saw, para sahabat atau para wali? Semua amalan itu tergantung dari niatnya....(hadits shohih), kalau niat orang itu untuk penghormatan atau bertabarruk kepada ahli kubur, maka tidak ada masalahnya, tetapi kalau niatnya beribadah kepada kuburan, maka inilah yang tidak dibolehkan oleh syariat. Sama halnya orang yang rukuk dan sujud dimuka bangunan dari batu yaitu Ka’bah, bila dia rukuk atau sujud menganggap sebagai ibadah kepada Ka’bah, maka akan hancurlah keimanannya, karena ibadah hanya ditujukan kepada Allah swt! Bila ada penziarah kubur berkeyakinan, bahwa ahli kubur (obyek yang di ziarahi) itu bisa merdeka (tanpa izin Allah swt) memberi syafaat pada penziarah kubur, keyakinan inilah yang dilarang oleh agama. Jadi sekali lagi semua itu terletak pada keyakinan seseorang. Kita tidak boleh mengharamkan ziarah kubur, karena melihat secara lahiriyah perbuatan perorangan, atau karena situasi lokasi dikuburan itu banyak kemungkaran yang terjadi.

Al-Allamah syeikh Ibnu Hajar ditanya tentang ziarah kemakam para wali, padahal dikuburan sana sering terjadi bercampurnya lelaki dan wanita, menyalakan lampu secara berlebih-lebihan dan lain sebagainya. Beliau menjawab, ‘Ziarah kubur para wali dan melakukan perjalanan kesana, merupakan pendekatan diri yang dihukumi sunnah. Adapun mengenai perkara-perkara yang bid’ah atau yang diharamkan (yang terjadi disana) tidak bisa ditinggalkan. Justru menjadi kewajiban setiap manusia untuk tetap melakukan ibadah, dan mengingkari bid’ah, dan melarangnya jika memang memungkinkan’. (Imam Nawawi, Al-Fatawi Al-Kubro juz.II hal.24). Dengan demikian kita diwajibkan untuk melarang (kalau ini memungkinkan) perbuatan yang melanggar syariat dilokasi kuburan, tetapi bukan ziarah kuburnya yang dilarang, karena ziarah kubur adalah sejalan dengan hukum syariat Islam!

 Berdoa dipekuburan:

Cukup banyak riwayat hadits bahwa Rasulallah saw dan para sahabatnya ketika ziarah kubur mendoakan dan memberi salam kepada ahli kubur dan berdoa juga untuk diri- nya. Begitu juga banyak riwayat bahwa para sahabat, para salaf dan khalaf ketika ziarah (makam) Rasulallah saw, para sholihin sambil tawassul, bertabarruk kepada mereka. Allah swt. akan mengabulkan do’a para hamba-Nya dimanapun dia berada, tetapi bila kita berdo’a disekitar Ka’bah, Maqam Ibrahim dan tempat-tempat lain yang mulia disisi Allah swt. termasuk juga disekitar kuburan Rasulallah saw., kuburan para Nabi lainnya, para sahabat Rasulallah saw. dan para kaum sholihin yang pribadi mereka di muliakan oleh Allah swt. harapan cepat terkabulnya do’a lebih besar, daripada kalau kita berdo’a kepada Allah swt. dirumah atau dipasar. Banyak riwayat yang menceriterakan tempat-tempat mustajab do’a, jadi tidak semua tempat sama !

Syari’at Islam telah menyatakan adanya kehidupan ruh-ruh orang mu’min yang telah wafat dialam barzakh (bisa mengerjakan sholat, bisa menghadiri tempat kuburnya, terbang kemana-mana menurut kehendaknya, berdo’a kepada Allah swt. untuk para kerabatnya yang masih hidup, mendengar omongan orang yang hidup dan lain sebagainya baca keterangan selanjutnya dibab ini dan pada bab tawassul/tabarruk diwebsite ini.

Kalau ruhnya orang mu’min biasa saja bisa berbuat demikian, apalagi dengan Ruhnya Rasulallah saw., para Nabi, para wali, dan kaum sholihin. Dengan adanya hadits-hadits itu, para penziarah berdo’a kepada Allah swt. untuk ahli kubur tersebut bukan berdo’a kepada ahli kubur tetapi untuk ahli kubur juga bertawassul, bertabarruk dengan penghuni kubur itu, agar penghuni kubur itu ikut berdo’a kepada Allah swt.untuk penziarah itu. Untuk keterangan lebih mendetail silahkan rujuk ke bab Tawassul/Tabarruk di website ini.

 Memakai sandal di kuburan:

Para ulama berbeda pendapat hukumnya. Kebanyakan ulama berpendapat tak ada salahnya berjalan di pekuburan dengan memakai terompah dan ada lagi ulama yang memakruhkan memakai terompah yang mewah bila tidak ada udzurnya (banyak duri dll). Jureir bin Ibnu Hazim berkata: ‘Saya melihat Hasan dan Ibnu Sirin berjalan diantara kubur-kubur dengan memakai terompah’.

Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Muslim, Abu Daud dan Nasa’i dari Anas bin Malik ra. bahwa Nabi saw. bersabda: “Seorang hamba bila ia telah diletakkan dalam kuburnya dan teman-temannya telah berpaling, maka sesungguhnya ia (si mayyit) mendengar bunyi terompah-terompah mereka”.

Hadits ini sebagai alasan atau dalil dibolehkannya berjalan di kuburan memakai terompah. Karena tidaklah akan didengar oleh simayyit bunyi terompah itu jika tidak dipakai!

Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal telah menganggap makruh memakai terompah Sibtit terompah mewah dipekuburan, berdasarkan riwayat Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah dari Basyir bekas budak Nabi saw. yang berkata: “Rasulallah saw. melihat seorang lelaki yang berjalan di pekuburan dengan berterompah, maka sabdanya; ‘Hai orang yang berterompah Sibtit, lemparkanlah terompahmu itu’!. Lelaki itu pun menoleh, dan demi dikenalnya Rasulallah saw. maka ditanggalkannya terompahnya lalu dilemparkannya”. Imam Ahmad mengatakan makruh ialah jika tidak ada udzur. Maka jika terdapat sesuatu keudzuran yang mengharuskan seseorang buat memakai terompah misalnya karena banyak duri atau najis, lenyaplah hukum makruh itu !!

Berkata Khathabi: “Tampaknya hal itu dimakruhkan ialah karena menunjukkan kemewahan, sebab terompah Sibtit itu biasanya dipakai oleh golongan mampu yang bermewah-mewah. Lalu katanya lagi: ‘Maka Keinginan Nabi saw. hendaklah memasuki pekuburan itu dengan sikap tawadhu’ (rendah diri) dan berpakaian seperti orang khusyu’ “.

Dengan adanya dalil-dalil diatas para pembaca bisa menilai sendiri apakah benar komentar golongan pengingkar yang mengharamkan orang yang pakai sandal di pekubur
an? Hukum makruhnya saja masih belum mutlak!

 Duduk, sholat diatas kubur:

Duduk diatas kubur, dianggap kurang penghargaan terhadap penghuni kubur, maka dari itu para ulama berbeda pendapat juga waktu menerangkan hadits Rasulallah saw. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud dan lainnya dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda: “Lebih baik jika seseorang diantaramu duduk diatas bara panas hingga membakar pakaiannya dan tembus kekulitnya daripada ia duduk diatas kubur ”. Hadits ini malah bisa dijadikan dalil bahwa orang yang telah wafat layak untuk dihormati, bila tidak demikian halnya, maka tidak perlu adanya hadits yang memakruhkan untuk duduk diatas pusara kubur.

Jumhur (pada umumnya) ulama memakruhkan hal itu, ada lagi yang membolehkan dan ada lagi yang mengharamkan. Untuk mempersingkat halaman marilah kita ambil dalil dari mayoritas ulama yang memakruhkan, antara lain:

Imam Nawawi berkata: “Melihat gelagat ucapan Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm, begitu pun golongan terbesar dari kawan-kawan sealiran, dimakruhkan duduk dikubur, maksudnya larangan itu adalah buat makruh, sebagaimana biasa terdapat dalam pengertian fukaha, bahkan banyak diantara mereka yang menyatakannya dengan tegas. Ulasnya pula: Demikian pula halnya pendapat jumhur ulama, termasuk didalamnya Nakh’i, Laits, Ahmad dan Abu Daud’. Imam Nawawi melanjutkan; Juga sama makruh hukumnya, bertelekan diatasnya dan bersandar padanya”.

Sebaliknya Ibnu Umar dari golongan sahabat, Imam Abu Hanifah, dan Imam Malik menyatakan tidak ada salahnya (boleh) duduk di kubur. Sedangkan pendapat yang mengharamkan ialah Ibnu Hazmin. (Keterangan diatas mengenai memakai sandal dan duduk diatas kubur dinukil dari kitab Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq jilid 4 cet.pertama th 1978 hal.175 dan 181).

Sedangkan hadits ,riwayat Imam Bukhori, mengenai membina masjid diatas (bukan disisi) kubur “Mereka (Yahudi dan Nasrani) itu, jika ada seorang yang sholeh di- antara mereka meninggal, mereka binalah diatas makamnya sebuah masjid dan mereka buat didalamnya patung-patung....sampai akhir hadits”dan hadits lainnya tentang sholat diatas kuburan, itu masih belum jelas apakah pelarangan (tempat ibadah dan arah kiblat) menjurus kepada hukum haram ataupun hanya sekedar makruh (tidak sampai pada derajat haram) saja. Hal itu dikarenakan Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya (lihat kitab Shahih al-Bukhari jilid 2 hal.111) dimana beliau mengumpul- kan hadits-hadits semacam itu ke dalam topik “Bab apa yang dimakruhkan dari menjadikan masjid di atas kuburan” (Bab maa yukrahu min ittikhodz al-Masajid ‘alal Qubur) dimana ini meniscayakan bahwa hal itu sekedar pelarangan yang bersifat makruh saja yang selayaknya dihindari, bukan mutlak haram. Begitu juga hadits diatas itu jelas makruh membina masjid atau sholat diatas kuburan bukan disisi kuburan.

Larangan Nabi saw. dalam hadits tadi dapat diambil suatu pelajaran bahwa kaum Yahudi dan Nasrani telah menjadikan kuburan para nabi dan manusia sholeh dari mereka bukan hanya sebagai tempat ibadah melainkan sekaligus sebagai kiblat (arah ibadah). Lainnya halnya dengan orang muslimin yang mengambil tempat sholat disisi kuburan orang sholeh hanya sebagai tabarrukan (pengambilan barokah) bukan sebagai arah kiblat.

Imam Syafi’i dalam kitabnya Al Umm bab ‘Pekerjaan setelah penguburan’ mengatakan: “Saya memandang makruh membangun masjid di atas kuburan, atau diratakan kemudian sholat diatasnya. Namun apabila ia telah sholat, maka ia tidak mengapa, tapi ia telah berbuat yang tidak baik”.

Memahami omongan imam Syafi'i, bahwa sholat diatas kuburan adalah makruh jadi tidak sampai kederajat haram. Begitu juga yang dimakruhkan adalah sholat diatas kuburan bukan disisi kuburan. Kalau golongan pengingkar tetap bersikeras mengharamkan sholat disisi atau menghadap kuburan dan lain sebagainya seperti yang telah dikemukakan, kami ingin bertanya kepada mereka: Dimana letak kuburan Rasulallah saw., khalifah Abubakar dan khalifah Umar bin Khattab [ra], apakah tidak terletak didalam masjid Nabawi? Mengapa ulama-ulama mereka yang di Madinah membiarkan orang muslimin sholat dihadapan, dibelakang, disamping kuburan tersebut? Malah kebanyakan kaum muslimin ingin sholat dekat atau disekitar kuburan Rasulallah saw. dan dua sahabatnya itu, sebagai tabarukkan. Keterangan lebih mendetail, silahkan baca halaman selanjutnya mengenai membina masjid disisi kuburan dan memberi penerangan dikuburan diwebsite ini. Wallahu a’lam

[edit]

Pasang INTERNET FASNET PLUS TV KABEL FIRSTMEDIA
Pasang FIRSTMEDIA internet speed hingga 100mbps + CHannel TV HD hingga 50HD hub 087777313417 only SMS